Refleksi Kedesaan Kita
Refleksi Kedesaan Kita
Akhir-akhir ini geliat pembangunan di desa kian terasa. Tak masalah desa menjadi modern, tetapi tak perlu disulap dengan frasa kota. Semestinya desa berjuang mempertahankan ”kedesaan”-nya di tengah gerusan modernitas.
Sejak zaman kerajaan, revolusi, kemerdekaan, reformasi, hingga era digitalisasi, desa selalu memesona siapa pun. Kita bisa melihat Indonesia dari desa, bahkan Pak Joko Widodo dalam nawacitanya menaruh perhatian besar untuk urusan ini, yakni membangun dari pinggiran (desa).
Pemerintah pun secara times series menggelontorkan dana desa untuk membalik kemurungan desa. Sejak 2015-2021, dana desa yang mengucur ke sekitar 74.000 desa di negeri ini tak kurang dari Rp 400 triliun.
Membuka data Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, sepanjang 2015-2020, dana desa telah digunakan untuk membangun prasarana penunjang aktivitas ekonomi masyarakat, antara lain berupa jalan desa sepanjang 261.877 kilometer, jembatan sepanjang 1.494.804 meter, pasar desa 11.944 unit, BUMDes 39.844 kegiatan, tambatan perahu 7.007 unit, embung 5.202 unit, irigasi 76.453 unit, dan sarana olahraga 27.753 unit.